Tuberkulosis atau TBC masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat karena penularannya dapat berlangsung di rumah, tempat kerja, sekolah, dan ruang bersama lainnya. Mengobati orang yang sudah sakit merupakan langkah penting, tetapi pencegahan pada orang yang memiliki kontak erat juga dibutuhkan agar infeksi tidak berkembang menjadi penyakit aktif.
Pada 3 November 2026, perhatian tertuju pada peningkatan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di DKI Jakarta. Cakupan pemberian terapi pencegahan dilaporkan meningkat dari kurang dari 5 persen beberapa tahun sebelumnya menjadi lebih dari 26 persen. Perkembangan ini menunjukkan kemajuan, sekaligus mengingatkan bahwa pelacakan kontak dan tindak lanjut masih perlu diperkuat.
Apa perbedaan infeksi TB dan penyakit TB aktif?
Bakteri penyebab TBC dapat masuk ke tubuh melalui udara ketika seseorang menghirup partikel yang dilepaskan oleh penderita TB paru aktif. Pada sebagian orang, sistem kekebalan mampu mengendalikan bakteri sehingga tidak muncul gejala dan orang tersebut tidak menularkan penyakit. Kondisi ini dikenal sebagai infeksi TB laten atau infeksi TB tanpa gejala penyakit aktif.
Pada sebagian orang lain, bakteri dapat berkembang dan menyebabkan penyakit TB aktif. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, demam, keringat malam, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, lemas, dan pada beberapa kasus batuk berdarah. Gejala dapat berbeda-beda, sehingga pemeriksaan diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Mengapa kontak erat perlu diperiksa?
Orang yang tinggal serumah atau sering berada dekat dengan pasien TB paru aktif berisiko terpapar. Pemeriksaan kontak bertujuan menemukan orang yang mungkin telah terinfeksi atau sudah mengalami penyakit aktif. Jika seseorang memiliki gejala, tenaga kesehatan akan melakukan evaluasi dan pemeriksaan yang sesuai. Bila penyakit aktif tidak ditemukan tetapi risiko infeksi dinilai tinggi, terapi pencegahan dapat dipertimbangkan.
Di Jakarta, tantangan pelacakan kontak antara lain aktivitas warga yang banyak berlangsung di luar rumah dan kebutuhan koordinasi antara Puskesmas, rumah sakit, kader, serta pemerintah wilayah. Pemeriksaan tidak cukup hanya mengandalkan pasien datang ke fasilitas kesehatan. Penjangkauan keluarga dan edukasi yang jelas membantu memastikan kontak erat mengetahui langkah berikutnya.
Bagaimana terapi pencegahan bekerja?
Terapi Pencegahan Tuberkulosis menggunakan obat untuk menurunkan kemungkinan infeksi TB berkembang menjadi penyakit aktif. Obat dan durasi terapi ditentukan oleh tenaga kesehatan berdasarkan pedoman, usia, kondisi medis, kemungkinan interaksi obat, dan hasil pemeriksaan. TPT bukan obat yang boleh dibeli atau diminum sendiri tanpa penilaian klinis.
Sebelum terapi dimulai, petugas perlu memastikan bahwa orang tersebut tidak sedang mengalami TB aktif. Hal ini penting karena pengobatan penyakit aktif berbeda dengan terapi pencegahan. Selama menjalani terapi, pasien perlu mengikuti petunjuk, menyampaikan efek samping, dan tidak menghentikan obat tanpa berkonsultasi. Tenaga kesehatan akan membantu menentukan apakah terapi perlu disesuaikan.
Peran keluarga dan lingkungan
Keluarga dapat membantu dengan mendukung anggota rumah tangga untuk memeriksakan diri, mengikuti jadwal kontrol, dan menyelesaikan terapi sesuai anjuran. Ventilasi yang baik, kebiasaan menutup mulut ketika batuk, penggunaan masker sesuai arahan petugas, serta menghindari stigma merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko penularan.
TB bukan alasan untuk mengucilkan seseorang. Stigma dapat membuat pasien menunda pemeriksaan atau menyembunyikan kondisi. Dukungan praktis seperti menemani ke fasilitas kesehatan dan membantu mengatur jadwal minum obat dapat meningkatkan keberhasilan program pencegahan dan pengobatan.
Deteksi dini perlu didukung layanan yang mudah dijangkau
Penguatan layanan membutuhkan alat diagnosis, obat yang tersedia, tenaga kesehatan terlatih, dan sistem pencatatan yang baik. Fasilitas kesehatan perlu memastikan kontak erat mendapat informasi yang konsisten serta akses pemeriksaan yang tidak berbelit. Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa pemeriksaan lebih awal dapat melindungi diri sendiri dan orang di sekitarnya.
Peningkatan cakupan TPT di Jakarta merupakan langkah penting, tetapi keberhasilan jangka panjang ditentukan oleh konsistensi pelacakan kontak, pemeriksaan, dan penyelesaian terapi. Jika seseorang tinggal bersama pasien TB aktif atau memiliki paparan erat, jangan menunggu gejala muncul untuk bertanya kepada Puskesmas tentang pemeriksaan yang diperlukan.
Waktu baca: sekitar 5 menit.

Tinggalkan Balasan