Kekerasan Digital Bisa Melukai Kesehatan Mental, Ini Cara Memberi Pertolongan Awal

Dua orang dewasa di luar ruangan menggambarkan pentingnya dukungan sosial dan kesehatan mental

Written by

in

Ruang digital memberi banyak manfaat bagi remaja dan orang dewasa muda: belajar, bekerja, membangun pertemanan, serta menemukan komunitas yang memahami pengalaman mereka. Namun, ruang yang sama juga dapat menjadi tempat terjadinya perundungan, pelecehan, penyebaran data pribadi, dan kekerasan berbasis gender secara daring. Dampaknya tidak berhenti ketika layar dimatikan. Korban dapat mengalami rasa takut, malu, sulit tidur, menarik diri, hingga gangguan kesehatan mental yang membutuhkan dukungan.

Isu ini kembali mendapat perhatian pada 23 Februari 2026, ketika pembahasan lintas sektor di Indonesia menyoroti dampak kekerasan digital dan pentingnya pertolongan pertama psikologis. Data yang dipaparkan menunjukkan 1.791 kasus kekerasan berbasis gender online dilaporkan di Indonesia pada 2024, meningkat 40,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka laporan tidak selalu menggambarkan seluruh kejadian karena sebagian penyintas memilih diam atau belum mengetahui tempat meminta bantuan.

Bentuk kekerasan digital tidak selalu terlihat

Kekerasan digital dapat berupa doxxing atau penyebaran informasi pribadi tanpa izin, cyberstalking, ancaman, pemerasan berbasis gambar intim, pelecehan seksual daring, dan cyberbullying. Pelaku bisa berasal dari orang yang dikenal maupun akun anonim. Dalam beberapa kasus, satu unggahan dapat disalin, disebarkan ulang, dan muncul kembali meskipun korban telah berusaha menghapusnya.

Pengalaman tersebut dapat membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas ruang pribadinya. Korban mungkin takut membuka pesan, enggan hadir di sekolah atau tempat kerja, menghindari teman, atau terus memeriksa akun karena khawatir ada unggahan baru. Reaksi setiap orang berbeda. Tidak tepat menganggap korban terlalu sensitif atau menyalahkan mereka karena aktif di media sosial.

Mengapa dukungan awal sangat penting

Pertolongan pertama psikologis bukan terapi jangka panjang dan bukan upaya memaksa korban menceritakan semua detail. Pendekatan awal berfokus pada tiga hal: melihat kebutuhan dan risiko keselamatan, mendengarkan tanpa menghakimi, lalu menghubungkan penyintas dengan bantuan yang sesuai. Pendamping tidak perlu menjadi ahli psikologi untuk memberikan dukungan dasar, tetapi perlu mengetahui batas kemampuannya.

Mulailah dengan menanyakan apa yang dibutuhkan korban saat itu. Pastikan apakah ada ancaman langsung, penyebaran alamat rumah, pemerasan, atau risiko pelaku mendatangi korban. Dengarkan dengan tenang. Hindari pertanyaan yang menyiratkan kesalahan, seperti mengapa korban mengirim foto atau mengapa baru bercerita sekarang. Kalimat sederhana seperti “Saya percaya kamu”, “Ini bukan salahmu”, dan “Kita cari bantuan bersama” dapat membuat korban merasa tidak sendirian.

Langkah praktis untuk melindungi diri dan bukti

Jika aman dilakukan, simpan bukti berupa tangkapan layar, tautan, nama akun, waktu kejadian, dan isi ancaman. Jangan menyebarkan ulang materi sensitif kepada orang lain. Atur privasi akun, ubah kata sandi dari perangkat yang aman, aktifkan autentikasi dua faktor, dan blokir atau laporkan akun pelaku. Jika ada ancaman fisik atau pemerasan, mintalah bantuan orang dewasa tepercaya, pendamping, lembaga layanan, atau aparat sesuai situasi.

Korban tidak harus menghadapi proses ini sendirian. Remaja dapat bercerita kepada orang tua, guru bimbingan konseling, wali kelas, atau kerabat yang dipercaya. Jika respons pertama tidak aman atau justru menyalahkan korban, cari orang lain yang lebih mampu mendengarkan. Sekolah dan tempat kerja juga perlu memiliki prosedur pelaporan yang menjaga kerahasiaan dan mencegah pembalasan.

Kapan perlu bantuan profesional

Jika rasa takut, sedih, cemas, sulit tidur, atau kehilangan minat berlangsung terus dan mengganggu aktivitas, konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan dapat membantu. Segera cari pertolongan darurat jika seseorang menyatakan ingin menyakiti diri, merasa tidak aman, atau menghadapi ancaman langsung. Pendamping sebaiknya tidak menjanjikan kerahasiaan mutlak bila keselamatan seseorang sedang terancam; jelaskan bahwa bantuan tambahan mungkin diperlukan.

Membangun ruang digital yang lebih aman

Pencegahan bukan hanya tanggung jawab pengguna. Platform perlu menyediakan mekanisme pelaporan yang mudah dipahami, merespons ancaman secara cepat, dan menjaga data pelapor. Sekolah, keluarga, komunitas, serta penyedia layanan kesehatan dapat memperkuat literasi digital dan keterampilan mendampingi penyintas. Edukasi perlu menekankan persetujuan, privasi, batas interaksi, dan tanggung jawab untuk tidak ikut menyebarkan konten yang merugikan.

Kekerasan digital dapat meninggalkan luka psikologis yang nyata. Dukungan yang tenang, aman, dan tidak menghakimi merupakan langkah awal penting untuk memulihkan rasa kendali. Ketika korban didengar dan dihubungkan dengan layanan yang tepat, mereka memiliki peluang lebih baik untuk kembali menjalani aktivitas tanpa harus menanggung beban sendirian.

Waktu baca: sekitar 5 menit.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *